Pengumuman
Rancaekek di Facebook
RancaEkek.Com on Facebook
Chat dengan pengurus
Donasi via PayPal
Klik tombol di bawah ini untuk memberi donasi melalui PayPal atau Kartu Kredit kepada kami:

Catatan:
Donasi yang diberikan bukan untuk kepentingan Kecamatan Rancaekek, namun hanya untuk kelangsungan hidup website ini. Terimakasih.
Statistik
Pengunjung OL: 0
Kunjungan Hr ini: 31
Total Kunjungan: 1919
OS:
Browser:
IP Address: 38.107.191.114
Login Anggota

Asal Usul
Di Kabupaten Bandung, khususnya di Kecamatan Ujungberung, Cibolerang, Cibiru, Cinunuk, Cileunyi dan Rancaekek, ada sebuah seni bela diri yang disebut “Benjang”. Konon, seni bela diri benjang berawal dari kesenian terbangan yang sering dimainkan oleh para santri yang ada di pondok pesantren. Dari pondok pesantren, kesenian terbangan ini menyebar ke masyarakat sekitarnya melalui upacara tradisional, seperti: selamatan kelahiran bayi, panen padi, maulid nabi, khitanan, dan perkawinan.

Ketika sedang bermain terbangan itu, sambil bernyanyi, terkadang mereka melakukan gerakan-gerakan saling mendorong. Gerakan mendorong yang diiringi musik terbangan itu kemudian menjelma menjadi suatu kesenian baru yang dinamakan “Dogong”. Pada kesenian dogong ini, para pemainnya akan saling mendorong dengan mempergunakan alu (alat penumbuk padi yang terbuat dari kayu).

Permainan dogong berkembang lagi menjadi suatu permainan saling mendesak tanpa menggunakan alat. Permainan baru ini disebut “Seredan”. Kemudian, permainan seredan berkembang lagi menjadi suatu permainan saling mendesak dengan pundak tanpa menggunakan alat maupun tangan. Permainan mendesak lawan hingga keluar arena ini disebut dengan “Adu Mundur”. Namun, karena dalam permainan ini sering terjadi pelanggaran, maka adu mundur diganti menjadi “Adu Munding”. Dalam permainan adu munding, pemain tidak lagi mendorong dengan menggunakan pundak, melainkan mendorong dengan cara membungkuk (merangkak) dan mendesak lawan dengan kepala, seperti seekor munding (kerbau) yang sedang bertarung.

Lama-kelamaan, seiring dengan makin banyaknya gerakan-gerakan atau teknik untuk menjatuhkan lawan, maka adu munding pun berkembang lagi menjadi suatu permainan yang saat ini disebut sebagai benjang. Dalam permainan benjang, semua unsur dari permainan sebelumnya (terbangan, dogong, seredan, adu mundur, dan adu munding) diramu menjadi satu. Namun, tidak semua gerakan dalam permainan sebelumnya juga dipakai dalam permainan benjang. Misalnya, gerakan atau teknik mendesak lawan dengan kepala yang dianggap cukup berbahanya, sudah jarang sekali digunakan oleh seorang pemain benjang (tukang benjang).

Pemain
Permainan benjang umumnya dilakukan oleh laki-laki remaja dan dewasa. Walaupun demikian, orang yang telah berusia lanjut pun diperbolehkan, asalkan atas kemauannya sendiri. Para pemain benjang biasanya tergabung dalam sebuah kelompok yang berasal dari satu perguruan. Setiap kelompok benjang jumlah anggotanya antara 20–25 orang, yang terdiri atas: satu orang pemimpin, 9 orang penabuh dan sisanya pemain. Selain pemain, dalam permainan benjang juga ada wasit yang bertugas mengawasi jalannya pertandingan dan menetapkan pemenang.

Sebagai catatan, untuk menjadi pemain benjang (tukang benjang) dituntut keberanian. Dalam permainan benjang tidak ada penimbangan badan terlebih dahulu dan tidak ada batas waktu permainan. Jadi, seseorang yang berbadan kecil dan kurus, apabila ia berani, dapat saja bertanding dengan orang yang bertubuh besar dan tinggi. Dan, apabila fisiknya masih kuat, para pemain akan tetap bermain hingga ada salah satu yang kalah.

Tempat dan Peralatan Permainan
Permainan benjang biasa dilakukan di tempat terbuka seperti halaman rumah atau lapangan pada pagi atau malam hari. Apabila permainan dilakukan pada pagi hari, umumnya dimulai sekitar pukul 07.00 sampai dengan pukul 09.00. Sedangkan, apabila dilakukan pada malam hari biasanya dimulai dari pukul 20.00 hingga pukul 24.00.

Peralatan yang digunakan dalam permainan benjang adalah: (1) seperangkat waditra yang terdiri dari: sebuah gendang besar, sebuah kulanter, empat buah terbang, kecrek, terompet, sebuah bedug, pingprung, kempring, kempul; (2) busana pemain yang terdiri dari: celana kolor dan kaus kutang (untuk pemain), pakaian silat (untuk pemimpin), baju kampret, celana pangsi, dan ikat kepala dari kain batik (untuk penabuh); dan (3) sesajen yang terdiri dari: kelapa muda, telur ayam, beras, minyak kelapa, cerutu, air kopi, rujak (pisang, kelapa, asem, gula merah), arang, dan kemenyan yang ditaruh di dalam pakuruyan1.

Aturan Permainan
Aturan permainan benjang tergolong sederhana, yaitu apabila seorang pemain berada dalam posisi terlentang dan ditindih oleh lawan mainnya, maka ia dinyatakan kalah. Sedangkan, orang yang menindihnya dinyatakan menang.

Selain aturan kalah-menang, ada aturan-aturan lain yang harus ditaati oleh setiap pemain, yaitu: tidak boleh mencolok mata, mencekik, menggigit, “mengambil” kaki lawan dan lain sebagainya yang dianggap dapat membahayakan lawan.

Jalannya Permainan
Permainan benjang diawali dengan pembacaan doa atau mantra yang dilakukan oleh pemimpin kelompok. Sambil bersila dan membaca doa, di depan pemimpin tersebut disediakan sesajen dan dibakarkan kemenyan. Tujuan dari kegiatan ini adalah agar selama pertunjukan berlangsung para pemain maupun penonton terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Selesai membacakan doa atau mantra barulah alat pengiring ditabuh sebagai tanda dimulainya permainan benjang. Selanjutnya, para pemain akan masuk ke dalam arena sambil ngibing (menari) dengan mengenakan kain sarung. Setelah selesai menari dan telah saling berhadapan, mereka akan membuka kain sarungnya masing-masing hingga tinggal mengenakan celana pendek saja.

Selanjutnya, penabuh akan mulai memainkan waditranya dengan irama bamplang, yaitu semacam irama padungdung dalam pencak silat. Irama bamplang ini merupakan tanda bagi para pemain untuk segera memulai permainan. Para pemain kemudian akan mulai menyerang lawannya dengan menggunakan seluruh teknik yang dikuasainya, seperti: (1) nyentok (menghentakkan kepala); (2) ngabeulit gigir, hareup dan bakun; (3) dobelson; (4) engkel mati; (5) angkat; (6) dengkekan; (7) hapsay (ngagebot) dan lain sebagainya.

Apabila dalam permainan tersebut seseorang dapat mengunci hingga lawannya berada di bawah dengan posisi terlentang, maka wasit akan segera menghentikan pertandingan, dan si pengunci dinyatakan sebagai pemenangnya.

Nilai Budaya
Benjang, sebagai suatu seni bela diri yang tumbuh dan berkembang di Jawa Barat, jika dicermati mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan acuan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu antara lain: kesehatan, kerja keras, kedisiplinan, kepercayaan diri, dan sportivitas.

Nilai kesehatan tercermin dari gerakan atau teknik-teknik yang dilakukan, baik ketika sedang berlatih maupun bertanding. Dalam hal ini, gerakan-gerakan dalam bermain benjang harus dilakukan sedemikian rupa, sehingga otot-otot tubuh akan menjadi kuat dan aliran darah pun menjadi lancar. Ini akan membuat tubuh menjadi kuat dan sehat.

Nilai kerja keras tercermin dari usaha untuk menguasai teknik-teknik yang ada dalam seni bela diri benjang. Tanpa kerja keras mustahil teknik-teknik tersebut dapat dikuasai secara sempurna.

Mempelajari seni bela diri benjang juga memerlukan kedisiplinan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap aturan-aturan perguruan. Tanpa kedisiplinan diri dan taat serta patuh kepada aturan-aturan perguran, akan sulit bagi seseorang untuk menguasai seni bela diri ini secara sempurna.

Mempelajari seni bela diri benjang, sebagaimana seni bela diri lainnya, berarti mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang tidak diinginkan, baik demi keselamatan dirinya maupun orang lain yang memerlukan pertolongannya. Dengan menguasai benjang seseorang akan menjadi percaya diri dan karenanya tidak takut gangguan dan atau ancaman dari pihak lain.

Untuk “mengasah” ilmu benjang setiap muridnya, sebuah perguruan seni bela diri pada umumnya mengadakan latih-tanding dan pertandingan. Dalam latih-tanding atau pertandingan tersebut tentu diperlukan adanya sikap dan perilaku yang sportif dari para pelakunya, sebab akan ada yang kalah dan menang. Nilai sportivitas tercermin dari pemain yang kalah akan mengakui keunggulan lawan dan menerimanya dengan lapang dada. (pepeng)

Sumber: Blog Uun Salimah
Foto: Pikiran Rakyat

Bagikan melalui:
  • Facebook
  • Twitter
  • E-mail this story to a friend!
  • Print this article!
  • Turn this article into a PDF!

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word

Didirikan atas dasar keinginan untuk dapat memberikan pelayanan yang terbaik untuk konsumen khususnya di bidang jasa kepariwisataan, baik untuk dalam negri maupun luar negeri. Dengan didukung oleh sumber daya manusia yang berpengalaman dan profesional, kami sangat siap untuk membantu anda dalam mewujudkan rencana perjalanan liburan, karya wisata, kunjungan dinas ataupun bisnis anda. Juga penyediaan alat transportasi dan akomodasi serta dokumen perjalanan yang akan memperlancar segala aktivitas liburan anda baik di dalam negri maupun ke luar negeri. Gemlin Tours & Travel adalah pilihan terbaik anda dalam mewujudkan sebuah perjalanan yang menyenangkan... - Sekapur Sirih - Berkat Rahmat Tuhan yang Maha Esa, Saya mengucapkan salam sejahtera dan semoga kita selalu berada dalam lindungan Nya.... Amien...! Dilatar belakangi profesi dan didasari kemampuan serta ilmu pengetahuan yang ada pada Kami dalam bidang kepariwisataan, ditambah juga hasil evaluasi di lapangan (Studi Banding), kami merasa prihatin terhadap industri kepariwisataan kita yang sedang terpuruk saat ini. Naluri profesi kami mengambil kesimpulan untuk membantu pemerintah yang hingga saat ini sudah memberikan  banyak kebijakan-kebijakan guna memajukan industri kepariwisataan kita. Dengan banyaknya objek wisata budaya dan alam yang sangat indah dan menarik yang dimiliki negara kita, maka kewajiban kitalah untuk menjadikan objek wisata budaya dan alam negara kita ini sebagai produk wisata unggulan, namun sayangnya produk wisata ini masih memiliki kekurangan sarana dan prasarana yang harus di benahi. Alam dan budaya kita tidak akan menjadi komoditi unggulan tanpa di dukung sarana dan prasarana yang juga SDM yang andal. Untuk itu kami dengan bekal kemampuan serta ilmu pengetahuan akan sesegera mungkin membangun kembali industri kepariwisataan Indonesia dimulai dari menyelenggarakan pendidikan untuk bidang pariwisata, menambah, dan memperbaiki kembali sarana yang ada. Sebelumnya kami ucapkan terima kasih kepada semua kalangan yang turut membantu membangun industri kepariwisataan Indonesia. Salam, Eddy Mulyadi Paket Wisata: Yogyakarta - Dieng Tours [4 Hr- 3 Mlm] Bandung - Yogyakarta Tour [3 Hr- 2 Mlm] Bandung - Yogyakarta Tour [3 Hr- 1 Mlm] Bandung - Pangandaran [2 Hr - 1 Mlm] Anyer [2 Hr - 1 Mlm] Dufan Seaworld Via Puncak Singapore - Kuala Lumpur [4 Hr - 3 Mlm] Hanoi & Saigon [5 Hr - 4 Mlm] Umroh Onh PLus Hubungi Kami: Biro Perjalanan Wisata Jl. Suplir II No. 8, Perumnas Bumi Rancaekek Keancana Phone: +62 22 7795365 Fax: +62 22 7795365