Archive for the ‘Sekitar Rancaekek’ Category
Setelah terus-menerus diterjang banjir dari luapan Sungai Citarum, sejumlah titik di ruas Jalan Raya Majalaya-Rancaekek, Desa Majasetra, Kec. Majalaya, Kab. Bandung rusak parah. Akibatnya, banyak kendaraan bermotor yang terperosok dan jatuh ke dalam kubangan lumpur di jalan tersebut.
Berdasarkan pemantauan, Senin (21/4), di ruas jalan yang rusak, sejumlah kendaraan roda dua maupun roda empat tampak antre dan berhati-hati ketika melewati ruas Jalan Raya Majalaya-Rancaekek, betulan Kp. Kamola, Desa Majasetra. Read the rest of this entry »
Bandung, Sejumlah ruas jalan di kawasan Rancaekek dan Baleendah Kabupaten Bandung rusak berat akibat tergerus banjir luapan sungai Citarum dan beberapa anak sungai.
Kerusakan terparah terjadi di jalan Raya Dangdeur Rancaekek. Sekitar dua kilometer jalan raya yang mengakses ke jalan utama Cicalengka – Cileunyi – Bandung itu bolong-bolong dengan kedalaman hingga 50 centimeter. Read the rest of this entry »
SOREANG, (PRLM).- Papan reklame di jembatan penyebrangan di Jalan Raya Rancaekek, tepatnya di depan PT Kahatex, roboh melintang di jalan. Robohnya reklame “Djarum Super” yang berukuran 4 x 10 meter ini, akibat hujan deran disertai angin kencang, Minggu (11/4) pukul 14.00 WIB. Read the rest of this entry »
SOREANG, (PR).-
Kondisi jalan raya Rancaekek-Majalaya Kab. Bandung, terutama di depan Pasar Dangdeur dan Pasar Wahana Karya Rancaekek, rusak berat. Di pagi hari, keadaan itu diperparah oleh keberadaan pedagang kaki lima (PKL) yang menyita badan jalan.
“Kami berulangkali menertibkan keberadaan PKL ini. Namun, setelah tidak diawasi, mereka kembali berjualan di tempat asalnya,” kata Pelaksana Tugas (Plt.) Camat Rancaekek, Meman Nurjaman, Minggu (2/5) Read the rest of this entry »
Silahkan Klik kanan pada tabel di bawah ini, lalu pilih: “Save Image As” (Firefox) untuk mendownload jadwal,

Asal Usul
Di Kabupaten Bandung, khususnya di Kecamatan Ujungberung, Cibolerang, Cibiru, Cinunuk, Cileunyi dan Rancaekek, ada sebuah seni bela diri yang disebut “Benjang”. Konon, seni bela diri benjang berawal dari kesenian terbangan yang sering dimainkan oleh para santri yang ada di pondok pesantren. Dari pondok pesantren, kesenian terbangan ini menyebar ke masyarakat sekitarnya melalui upacara tradisional, seperti: selamatan kelahiran bayi, panen padi, maulid nabi, khitanan, dan perkawinan.






